FACTFULNESS

Book

BOOK REVIEW

II. Naluri terhadap Negativitas

Fact Fullness yaitu mengenali kapan kita mendapat berita-berita negatif. Berita negatif sering dijadikan sebuah berita karena lebih menarik. Banyak hal hal umum dan perbaikan yang tidak dijadikan sebuah berita. Sehingga kita terbiasa dan meyakini bahwa dunia semakin buruk dari hari ke hari, padahal hal tersebut salah.

  • Membaik dan masih buruk: Sesuatu dapat membaik sekaligus tetap buruk.
  • Kabar baik seringkali tidak diberitakan: Ketika mendapatkan kabar buruk, cari berita baik supaya kadar berita baik dan buruk yang Anda terima seimbang.
  • Perbaikan bertahap bukanlah dijadikan untuk diberitakan: Ketika perbaikan bertahap sedikit demi sedikit, kemudian terdapat tulisan, Anda mungkin lebih terpaku pada tukikan tersebut daripada perbaikan keseluruhan.
  • Kabar lebih banyak tidak berarti penderitaan sama banyak: Kabar buruk lebih banyak dikarenakan banyak orang yang lebih mudah melihat penderitaan, bukan karena dunia semakin memburuk.
  • Hati-hati dengan masa lalu yang dipoles: banyak orang yang sering memecahkan masa lalu atau sejarah mereka.

Buku ini banyak orang menganggap dunia sangat buruk dan akan menjadi buruk. Padahal berdasarkan data yang ada dunia semakin menunjukkan perubahan yang baik dari setiap tahunnya. Keburukan tentunya masih banyak terjadi, namun kita tidak dapat menutup mata bahwa saat ini dunia juga mengalami banyak kemajuan.

I. Naluri terhadap Kesenjangan

Fact Fullness mengenali kapan sebuah cerita berbicara mengenai kesenjangan. Kesenjangan terjadi karena adanya batas atas dan batas bawah. Mayoritas penduduk dunia saat ini berada di tengah. Cara terbaik untuk melihat kesenjangan adalah dengan melihat mayoritasnya.

  • Waspada terhadap perbandingan rata-rata: Banyak data yang saling tumpang tindih, maka bisa jadi kesenjangan tersebut tidak ada sama sekali.
  • Waspada perbandingan harga ekstrim: Dalam setiap negara pasti ada seseorang yang duduk di posisi puncak dan terbawah. Saat ini mayoritas penduduk berada di tengah yang sering dikenal dengan kesenjangan itu sendiri.
  • Pemandangan dari atas: Ketika melihat suatu hal dari atas, semuanya seakan terlihat pendek padahal kenyataannya tidak. Hal ini mendistorsi pemandangan kita.

 

Fact Fullness mengenali kapan sebuah cerita berbicara mengenai kesenjangan. Kesenjangan terjadi karena adanya batas atas dan batas bawah.

III. Naluri terhadap Garis Lurus

Fact Fullness yaitu mengenali asumsi bahwa sebuah garis hanya akan berlanjut secara lurus. Padahal dalam dunia nyata, hal tersebut langka terjadi.

  • Jangan mengandalkan garis lurus: Jarang sekali sebuah garis akan terus lurus. Biasanya adalah berbentuk huruf S, gundukan, maupun lipat 2. 

 IV. Naluri terhadap Rasa Takut

Fact Fullness yaitu mengenali kapan hal-hal yang menakutkan berhasil merenggut perhatian kita. Ketakutan alami manusia biasanya adalah kekerasan, penyanderaan, ular, dan pencemaran. Sehingga kita menilai resiko tersebut terlalu tinggi

  • Rasa takut vs realitas: Dunia terkesan menyeramkan karena anda memfilter sendiri apa yang ingin Anda dengar yaitu hal hal yang menakutkan yang berasal dari media. Anda lebih tertarik dengan suatu hal negatif dibandingkan dengan suatu hal yang positif.
  • Risiko = bahaya x kemunculan: Risiko yang ada di depan Anda bukan bergantung pada ketakutan yang Anda hadapi tapi pada seberapa bahayakah resiko tersebut dan seberapa mungkinkah risiko tersebut akan muncul.
  • Menenangkan diri sebelum mengerjakan sesuatu: Ketika Anda takut, maka Anda melihat dunia secara berbeda. Buat keputusan ketika kepanikan Anda sudah mereda.

V. Naluri terhadap Ukuran

Fact Fullness adalah mengenali kapan sebuah angka tunggal terlihat mengesankan. Bahwa angka tersebut akan memberikan arti yang berbeda ketika diperbandingkan atau dibagi dengan sebuah angka lain yang relevan

  • Bandingkan: Angka angka tunggal seringkali menyesatkan. Anda harus membandingkannya dengan angka lain untuk dapat menjustifikasi dengan baik.
  • 80/20: Cari beberapa hal yang besar dan cermati hal tersebut. Seringkali yang sedikit justru lebih penting daripada big picturenya
  • Bagi: Rate lebih bermakna terutama ketika memperbandingkan kelompok dengan jumlah yang berbeda. Jadi perhitungannya adalah per-orang bukan per-wilayah atau negara.

 VI. Naluri terhadap Generalisasi

Fact Fullness adalah mengenali kapan sebuah kategori sedang digunakan dalam sebuah penjelasan, dan seringkali menyesatkan. Yang bisa kita lakukan adalah menghindari generalisasi yang tidak benar

  • Cari perbedaan-perbedaan dalam kelompok: Ketika kelompoknya besar, coba bagi menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih presisi.
  • Cari kemiripan dari beberapa kelompok yang berbeda: Apabila menemukan kemiripan, pertimbangkan apakah kategori Anda relevan.
  • Cari perbedaan dari beberapa kelompok yang berbeda: Yang berlaku bagi suatu kelompok belum tentu berlaku bagi kelompok lainnya.
  • Hati hati dengan mayoritas: Mayoritas itu artinya lebih dari separuh. Cari tahu apakah dia 51% atau 99%.
  • Hati hati dengan contoh yang jelas: Sesuatu yang jelas menjadikan mudah untuk diingat, bisa jadi hal itu hanya pengecualian, bukan seharusnya begitu.
  • Andaikanlah orang lain tidak bodoh: Ketika sesuatu terlihat aneh, tingkatkan rasa ingin tahu namun tetap rendah hati dan berpikir panjang. Pikirkan apakah hal tersebut benar-benar solusi yang tepat.

VII. Naluri terhadap Takdir

Tactfulness yaitu menyadari bahwa banyak hal yang terlihat tidak berubah, padahal sebenarnya perubahan tersebut terjadi namun berlangsung secara lambat.

  • Terus memantau perbaikan bertahap: Perubahan kecil apabila terus menerus dapat menjadi sebuah perubahan besar dalam puluhan tahun.
  • Perbarui pengetahuan Anda: pengetahuan terus berganti dan meninggalkan dengan cepat. Contohnya teknologi.
  • Mengobrol dengan kakek: Coba tanyakan pada kakek nenek Anda tentang nilai yang mereka anut di masa lalu. Selanjutnya bandingkan dengan nilai yang Anda anut sekarang.
  • Mengumpulkan contoh-contoh perubahan kebudayaan: Jangan percaya bahwa kebudayaan di masa lampau pasti sama dengan budaya saat ini, begitu juga di masa mendatang.

VIII.  Naluri terhadap Perspektif Tunggal

Tactfulness yaitu mengakui bahwa perspektif tunggal dapat membatasi imajinasi. Lebih baik memandang suatu masalah dari banyak sudut sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih akurat sehingga solusi yang ditawarkan menjadi applicable

  • Uji gagasan-gagasan Anda: Cari orang yang tidak sepakat dengan gagasan Anda dan cari kelemahan dari gagasan tersebut.
  • Keahlian yang terbatas: Jangan mengaku menjadi seorang pakar di luar bidang keahlian Anda. Bersikap rendah hati dan hati hati dengan batasan keahlian orang lain.
  • Palu dan paku: Apabila menganalisis masalah secara mendalam, jangan sampai membesar-besarkan pentingnya masalah atau solusi Anda. Tidak ada satu palu yang bisa cocok dengan semua paku. Cari perspektif lain dan terbuka dengan gagasan dari bidang lainnya.
  • Angka, namun tidak hanya angka: Dunia tidak dapat dipahami hanya dengan angka. Gunakan angka ketika angka tersebut merepresentasikan kehidupan sebenarnya.
  • Hati hati dengan gagasan dan solusi sederhana: Sambut kerumitan yang datang pada Anda. Gabungkan semua gagasan. Kompromi. Pecahkan masalah dengan kasus demi kasus

 IX. Naluri untuk Menyalahkan

Fact Fullness yaitu menyadari bahwa menyalahkan orang lain seringkali menghilangkan fokus kita terhadap masalah serta solusi. Menyalahkan juga menghalangi kemampuan kita untuk mencegah masalah serupa di masa yang akan datang

  • Cari penyebab bukan penjahatnya: Hal buruk dapat terjadi dimanapun dan kapanpun tanpa ada niat seseorang untuk melakukannya. Lebih baik gunakan energi untuk mencari masalah dan solusi yang terbaik.
  • Cari sistem bukan pahlawan: Ketika seseorang sudah melakukan sesuatu dengan baik, dia harus berterima kasih juga pada sistem. Karen orang tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya sistem.

X. Naluri terhadap Keterdesakan

Tactfulness yaitu mengenali ketika sebuah keputusan terasa mendesak. Sesungguhnya hal ini sangat jarang sekali terjadi

  • Tarik napas: Ketika Anda terdesak, naluri analisis Anda akan mati. Coba minta lebih banyak waktu dan data terlebih dahulu. Ingat bahwa keterdesakan sangat jarang terjadi.
  • Bersikeras meminta data: Sesuatu yang mendesak dan penting harus diukur. Syaratnya yaitu data harus relevan dan akurat.
  • Waspadai orang yang senang meramal: Prediksi tentang masa mendatang tidak pernah pasti. Selalu minta skenario lengkap serta tanyakan seberapa banyak prediksi ini sudah berhasil dilakukan.
  • Berhati hati terhadap aksi yang drastis: Tanyakan bagaimana gagasan itu telah duji. Perbaikan yang selangkah demi selangkah biasanya akan lebih efektif

Pages

Year of Publication

“I don’t love numbers. I am a huge, huge fan of data, but I don’t love it. It has its limits. I love data only when it helps me to understand the reality behind the numbers, i.e., people’s lives.”

― Hans Rosling, Factfulness: Ten Reasons We’re Wrong About the World—and Why Things Are Better Than You Think

Other books

How to Win Friends & Influence People